Deskripsi
Inilah yang terakhir kali Al Mas’ud ingat sebelum ia kehilangan kesadaran beberapa saat yang lalu. Sekarang, matanya membuka, perlahan mengerjap. Cahaya terang menyelinap melalui celah kecil di dinding. Sudah siang? Berapa lama dia tak sadarkan diri? Berusaha untuk duduk, tubuhnya terasa sakit. Memar di lengan dan lebam di paha serta punggungnya memberikan sinyal rasa sakit.
Mas’ud menoleh ke kiri, ke kanan, tetapi gerakannya terhenti oleh sekat. Ia berada di dalam ruangan kecil, hampir seperti kerangkeng. Lembap, bau amis merayap di udara. Lantai tempat dia duduk terasa bergoyang-goyang. Suara deburan ombak…
Kepalanya berputar cepat, tidak ada lagi keraguan. Dia berada di dalam kapal yang sedang berlayar. Seseorang melintas di depan kerangkeng, mengenakan pakaian khas pelaut yang berantakan, rambutnya awut-awutan. Wajah orang itu melongok masuk ke dalam kerangkeng.
“Yang ini sudah siuman!” Teriaknya sambil memukul-mukul kerangkeng, menciptakan kebisingan. Dua pelaut lain di dekat pintu bergegas mendekat. Mereka turut memeriksa, dua wajah baru yang terlihat sama galaknya ikut menatap Mas’ud.
“Bawa dia ke depan!”
Kunci besar dikeluarkan dan pintu kerangkeng berderak saat dibuka. Salah satu pelaut menarik tangannya, “Keluar, Bodoh!” Mas’ud merasa kepalanya terantuk pintu kerangkeng. “Cepat!” Teriak yang lainnya.
“Dia berjalan seperti ibu-ibu tua,” tambah yang lain, disambut tawa. Mas’ud melangkah limbung di lorong kapal, melewati lantai yang licin, dan kerangkeng lain yang kosong. Terus berjalan. Kapal ini cukup besar, dengan palka besar di perutnya. Ia menaiki anak tangga, diiringi suara debur ombak yang semakin kencang dan sorak-sorai yang semakin nyaring.
Ulasan
Belum ada ulasan.