Deskripsi
Gus Ibra tiba-tiba diminta untuk memberikan khutbah pada pernikahan cucu Buya Khalid, sosok yang sangat berjasa dalam hidupnya. Shireen, santri yang baru saja bergabung tiga bulan yang lalu, adalah cucu tersebut. Gus Ibra heran mengapa Shireen baru memulai perjalanan di pesantren padahal cucu-cucu yang lain sudah berada di sana sejak SD.
Ketika pernikahan akhirnya digelar, rahasia-rahasia perempuan itu mulai terungkap satu per satu. Gus Ibra merasa marah dan kecewa karena menyadari bahwa tidak semua rahasia Shireen dibagikan kepada suaminya. Prolog pada sore hari ini, matahari telah tenggelam, dan angin pantai bertiup kencang, membuat abaya dan hijab perempuan cantik itu berkibar tanpa arah. Di sisinya, seorang laki-laki berusaha melepas pecinya sendiri setelah terjatuh akibat kencangnya angin, membiarkan rambutnya yang agak gondrong berkibar bebas. Pasangan itu berjalan di atas pasir putih, bergandengan tangan dengan latar belakang matahari terbenam. Siluet mereka tampak begitu indah. “Sudah hampir magrib. Mari kita cari masjid sebelum pulang,” ucap sang laki-laki. Sang perempuan mengangguk dan melangkah lebih dulu. Namun, tiba-tiba sang suami berada di depannya dan menggendongnya di punggung. “Mas Ibra!” teriak perempuan itu kaget dan agak kesal, sambil memukul pundak sang suami. Laki-laki itu tertawa dengan riang. “Sava ingin memenuhi keinginan kelima istrinya. Menggendong orang yang sayang padanya di pantai.” “Mas Ibra sayang padaku?” tanya perempuan itu, tak bisa menyembunyikan senyumnya. “Saya sudah menggendongmu. Apakah ini tidak cukup membuktikan seberapa sayangnya aku padamu?” balas laki-laki itu sambil tersenyum. Senyum perempuan itu semakin melebar, dan dia melingkarkan tangannya di leher sang suami dengan perasaan bahagia yang sulit diungkapkan. “Seberapa dalam rasa sayang Mas Ibra kepadaku?” “Bagaimana cara mengukurnya?” tanya sang suami. “Ya, jika cara Mas Ibra menggendong artinya sayangnya hanya sebatas mata kaki, tentu saja itu cetek.”
Ulasan
Belum ada ulasan.