Deskripsi
Ale duduk di sudut kamarnya yang pengap, dikelilingi tumpukan pakaian kusut dan lantai yang berdebu. Matanya kosong menatap kalender di dinding, melingkari tanggal dengan tinta merah tebal—sebuah peringatan yang hanya ia sendiri pahami. Besok, tepat 24 jam dari sekarang, semuanya akan berakhir.
Ia telah merencanakannya dengan matang. Ale bukan orang ceroboh. Jika hidupnya selalu berantakan, setidaknya kematiannya harus rapi. Tak ada yang perlu direpotkan, tak ada yang perlu merasa terganggu. Ia sudah membersihkan apartemennya, membuang barang-barang tak perlu, bahkan menyusun pakaian yang akan dikenakan saat ditemukan nanti—kemeja hitam dan celana hitam, seperti menghadiri pemakamannya sendiri.
Seumur hidupnya, Ale merasa menjadi sosok yang tak diinginkan. Tubuhnya terlalu besar, kulitnya terlalu gelap, dan bau badannya—sesuatu yang ia coba perbaiki dengan segala cara—tetap membuat orang menjauh. Sejak kecil, ia tumbuh di keluarga yang tak memberinya pelukan, di sekolah yang menjadikannya bahan olokan. Depresi bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Itu tumbuh bersamanya, seperti bayangan yang tak pernah lepas.
Bukan berarti ia tak berusaha. Tuhan tahu betapa keras Ale mencoba. Ia menata diri, menahan bau tubuhnya dengan deodoran mahal, memaksakan senyum saat orang lain enggan melihatnya, mencoba berbicara lebih sedikit agar tak membuat orang risih. Tapi dunia tak peduli seberapa besar usahanya. Dunia hanya peduli pada mereka yang sudah sempurna sejak awal.
Maka, inilah akhirnya. Malam terakhirnya. Ia ingin menikmati hidup sekali saja sebelum mati. Ale memesan makanan mahal yang tak pernah ia coba, meneguk minuman keras hingga kepalanya ringan, lalu pergi ke karaoke sendirian. Ia bernyanyi sampai suara seraknya hampir tak keluar, lagu-lagu yang dulu ingin ia nyanyikan bersama teman—jika saja ia pernah punya teman.
Saat waktu itu tiba, Ale sudah siap. Ia duduk di kursi dengan rapi, mengenakan topi ulang tahun kertas yang sengaja dibelinya, seolah sedang merayakan dirinya sendiri untuk terakhir kali. Dengan satu tarikan napas, ia membuka botol antidepresan itu, mengeluarkan isinya ke telapak tangan. Sekali teguk, dan semuanya selesai.
Ulasan
Belum ada ulasan.