-
-20%
Adam, Hawa, Dan Durian
Puisi-puisi dalam buku ini lahir di tengah proses seni Garin Nugroho sejak tahun 1990. Kata “Durian” dipilih olehnya karena memiliki paradoks yang menarik: sulit untuk membukanya, berduri namun enak rasanya, tetapi dapat menyebabkan penyakit, dan sebagainya. Maka, “Adam, Hawa, dan Durian” dipilih sebagai simbol untuk menunjukkan tempat, merujuk pada paradoks durian itu sendiri.
-
-13%
Air Kata-Kata
Dalam “Air Kata-Kata,” terdapat 71 puisi yang disusun dengan keterkaitan beberapa di antaranya atau membahas satu topik tertentu. Ilustrasi menawan dari berbagai seniman seperti Djoko Pekik, Hermanu, Sigit Santosa, dan Sekar Jatiningrum, memberikan dimensi visual yang memperkaya pengalaman membaca.
-
-13%
Air Kejujuran
Puisi-puisi dalam buku ini adalah aliran kata-kata yang menumpahkan kejujuran, sesuai dengan kehendak penulisnya. Seperti air yang mengalir dengan jujur, kata-kata Sindhunata mengikuti aliran mereka tanpa dipaksa atau dibatasi. Kata-kata memiliki kekuatan untuk menipu, namun dalam kejujuran, kata-kata menjadi sejernih air yang mengalir bersih.
-
-10%
Aku Ini Binatang Jalang
Koleksi sajak-sajak Chairil Anwar dari tahun 1942 hingga 1949, yang sebelumnya tersebar di beberapa buku seperti “Deru Campur Debu,” “Kerikil Tajam,” “Yang Terampas dan Yang Putus,” “Tiga Menguak Takdir,” dan “Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45,” kini disatukan dalam buku “Aku Ini Binatang Jalang.” Buku ini tidak hanya memuat seluruh sajak aslinya tetapi juga mencakup surat-surat Chairil Anwar kepada sahabatnya, HB Jassin, yang memberikan gambaran tentang keadaan jiwa penyair tersebut.
-
-10%
Babad Batu
“Babad Batu” merupakan kumpulan sajak dari salah satu penyair terkemuka Indonesia, yaitu Sapardi Djoko Damono. Sajak-sajak dalam “Babad Batu” menampilkan nuansa yang berbeda dari karya-karya Sapardi yang biasanya cenderung menggunakan diksi sederhana yang mudah dipahami.
-
-4%
Ikan Adalah Pertapa
Penyair KO HYEONG RYEOL, melalui puisi-puisinya, memberikan pengalaman membaca yang kaya dengan kilatan gagasan dan makna yang melompat dari satu objek ke objek lainnya. Menurut Maman S. Mahayana dan Nenden Lilis Aisyah, setiap puisi KO HYEONG RYEOL seperti satu lampu yang memancarkan cahaya ke berbagai arah, dengan tanda-tanda dalam puisi tersebut memiliki makna yang bervariasi dan dapat diinterpretasikan ke berbagai arah. Dengan kata lain, setiap puisi tidak hanya memiliki satu makna tetap, namun dapat membuka pintu untuk makna-makna baru setiap kali dibaca.
-
-20%
Kekasih Teluk
Puisi-puisi Yayas mencerminkan kerinduan yang mendalam terhadap alam, sesuai dengan filosofi keseharian hidup orang Bali. Ungkapannya yang segar, terutama dalam bentuk kecewa, kemarahan, dan gugatan terhadap manusia sebagai perusak alam, menandai keunikan puisi-puisinya. Rasa kecewa yang tak henti menjadi tema utama, namun melalui karya-karyanya, Yayas juga menyelipkan harapan.
-
-14%
Kepada Cium
Buku “Kepada Cium” karya Joko Pinurbo berisi 30 puisi yang ditulis selama tahun 2005-2006. Melalui peristiwa-peristiwa kecil dan sederhana, imajinasi Joko Pinurbo membawa kita untuk menjelajahi kedalaman hubungan manusia dengan dunia dalam dan luar dirinya.
-
-26%
Perahu Kertas
Perahu Kertas adalah kumpulan sajak yang dibuat oleh Sapardi Djoko Damono. Pada akhir Maret 1984, karya ini meraih Hadiah Sastra DKJ tahun 1983, menciptakan keajaiban tersendiri bagi Sapardi Djoko Damono sebagai seorang penyair suasana. Buku ini memperlihatkan keajaiban magis, di mana Sapardi Djoko Damono berperan sebagai pencipta suasana.
-
-7%
Perihal Gendis
GENDIS: Oke, tapi siapa namamu? Aku suka nama yang kalau diucapkan menjelma percikan api menjelma makna menghangatkan malam. BURUNG: Tidak tahukah kau, Gendis, bahwa burung tidak memerlukan nama? Tidak tahukah kau sebabnya, Gendis? Nama selalu bergeser geser tafsirnya kalau diucapkan Perihal Gendis adalah kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono tentang seorang gadis yang beranjak dewasa dan mempertanyakan banyak hal di sekelilingnya. Kadang ia bercakap-cakap dengan mawar, burung, ulat, dan dirinya sendiri.
-
-10%
Puisi Mbeling
Buku ini menjadi tonggak sejarah sebagai karya pertama yang memuat puisi-puisi mbeling, sebuah gerakan puisi yang diinisiasi oleh Remy Sylado dari tahun 1971 hingga 2003. Dalam buku ini, sang penyair secara pribadi memilih 143 puisi yang tidak hanya mengundang senyuman, tawa bahagia, namun juga refleksi mendalam. Di balik keceriaannya, Remy Sylado sejatinya menyampaikan kritik serius terhadap sikap feodal dan kepalsuan dalam masyarakat kita, terutama di kalangan pemimpin bangsa.