-
-7%
Fabric of Reality
Dalam bukunya, Deutsch membahas beragam topik ilmiah menarik, termasuk interpretasi multiverse dalam fisika kuantum, realitas maya, mesin waktu, dan dampak kehidupan dan kecerdasan terhadap kosmologi. Dia mengeksplorasi konsep pencarian kebenaran ilmiah, peran matematika sebagai disiplin ilmu yang berbeda dari fisika, serta keterkaitan antara kehendak bebas dan fisika kuantum. Deutsch menekankan bahwa teori-teori dasar sains seharusnya tidak hanya dijadikan alat prediksi, tetapi juga sebagai dasar bagi pandangan dunia kita.
-
-13%
Heidegger dan Mistik Keseharian
Heidegger memang sosok yang kontroversial, namun sulit bagi para kritikus dari berbagai aliran pemikiran untuk mengabaikan kedalaman pemikirannya. Sebagai seorang metafisikus terkemuka, Heidegger merenungkan pertanyaan mendasar yang juga menjadi fokus agama-agama dunia sepanjang sejarah: mengapa segala sesuatu ada daripada tidak ada? Dari pertanyaan pokok ini, timbul pertanyaan-pertanyaan lain yang tak kalah fundamental, seperti: Mengapa manusia ada? Mengapa manusia tidak ada? Apa makna keberadaan manusia di dunia ini? Jika keberadaan manusia terbatas oleh waktu, apa sebenarnya arti dari waktu itu sendiri?
-
-5%
How To Run A Country
Tulisan-tulisan politik Cicero tidak hanya menjadi sumber berharga untuk studi Romawi kuno, tetapi juga wawasan dan kearifannya tetap relevan. Penggunaan dan penyalahgunaan kekuasaan hampir tidak mengalami perubahan selama dua ribu tahun.
-
-10%
How To Win An Election
Marcus Cicero, seorang orator berbakat dan intelektual yang sebanding dengan kebolehannya menggunakan kata-kata, memulai kariernya sebagai pejabat yang meskipun rendah namun memiliki peran penting. Reputasinya semakin gemilang ketika ia sukses sebagai kuasa hukum untuk banyak tokoh terkemuka. Namun, nasib tidak berpihak kepadanya sebagai bangsawan.
-
-25%
Humanisme dan Sesudahnya
Mengapa perlu membahas kembali humanisme, suatu paham yang menekankan pada manusia, kemampuan kodratnya, dan nilai-nilai kehidupan duniawi? Sejak abad ke-14, gerakan humanis modern telah tumbuh, memberikan penafsiran rasional yang mempertanyakan monopoli agama dan negara dalam menentukan kebenaran. Humanisme sekuler memberikan keyakinan bahwa kehidupan “dunia-atas-sana” tidak lebih penting daripada “dunia-bawah-sini.” Namun, humanisme tidak terlepas dari kritik.
-
-11%
Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia
Melalui analisis yang kaya akan nuansa ekspresi dan representasi dalam budaya layar, seperti bioskop, televisi, dan media sosial, penulis menganalisis gelombang energi dan optimisme, sekaligus kekecewaan, disorientasi, dan keputusasaan, yang muncul dalam kekosongan kekuasaan pasca-keruntuhan dramatis rezim Orde Baru yang militeristik.
-
-4%
Ikan Adalah Pertapa
Penyair KO HYEONG RYEOL, melalui puisi-puisinya, memberikan pengalaman membaca yang kaya dengan kilatan gagasan dan makna yang melompat dari satu objek ke objek lainnya. Menurut Maman S. Mahayana dan Nenden Lilis Aisyah, setiap puisi KO HYEONG RYEOL seperti satu lampu yang memancarkan cahaya ke berbagai arah, dengan tanda-tanda dalam puisi tersebut memiliki makna yang bervariasi dan dapat diinterpretasikan ke berbagai arah. Dengan kata lain, setiap puisi tidak hanya memiliki satu makna tetap, namun dapat membuka pintu untuk makna-makna baru setiap kali dibaca.
-
-20%
Islam, Otoritarianisme, Dan Ketertinggalan
Dalam penelitian yang mendalam oleh Ahmet T. Kuru, seorang guru besar ilmu politik dan direktur Center for Islamic and Arabic Studies di San Diego University, dia menggugah pemikiran konvensional yang menunjukkan bahwa agama Islam adalah penyebab utama tingkat otoritarianisme tinggi dan pembangunan sosioekonomi rendah di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim. Kuru menyoroti bahwa penjelasan tersebut terlalu sederhana dan tidak mencerminkan sejarah yang kompleks.
-
-5%
Jejak Langkah
Minke memobilisasi segala daya untuk melawan bercokolnya kekuasaan Hindia yang sudah berabad-abad umurnya. Namun Minke tak pilih perlawanan bersenjata. Ia memilih jalan jurnalistik dengan membuat sebanyak-banyaknya bacaan Pribumi. Yang paling terkenal tentu saja Medan Prijaji.
-
-9%
John Locke dan Akar Pemikiran Kekayaan Intelektual
Buku “John Locke dan Akar Pemikiran Kekayaan Intelektual” karya Ignatius Haryanto menjadi referensi yang sangat baik bagi mereka yang ingin memahami HKI dari sudut pandang filsafat, tanpa terjebak hanya dalam batas norma perundang-undangan yang jelas dipengaruhi oleh “kepentingan” tertentu. Buku ini juga dapat menjadi sumber belajar yang baik bagi para pengajar HKI di perguruan tinggi untuk menghindari doktrin positivisme atau legalisme sempit yang dapat menyesatkan mahasiswa dalam pemahaman mengenai sistem perlindungan HKI.
-
-9%
Kerudung Merah Kirmizi
Dengan latar belakang masa Orde Baru dan awal reformasi, novel ini mengupas liku-liku seorang pengusaha yang menggunakan oknum aparat keamanan dan para bandit untuk mencapai tujuannya. Remy Sylado, dengan kepiawaian luar biasa, menggambarkan keharuan dan ketegangan dalam kisah yang memukau. Melalui cerita yang tulus, kita dibawa untuk menyadari bahwa kejujuran dapat menjadi sumber kekuatan manusia dalam menghadapi marabahaya dalam berbagai wujudnya.
-
-17%
Kisah Brang Wetan
Kisah Brang Wétan mencakup Babad Alit dan Babadé Nagara Patjitan, dua narasi sejarah yang menghadirkan cerita tentang Ponorogo, Pacitan, Madiun Raya, Surakarta, Trenggalek, Kediri, hingga Pajajaran di Jawa bagian barat. Dalam dua babad ini, yakni Babad Alit (NN, 1911) dan Babadé Nagara Patjitan (Gandaatmadja, 1924), terdapat kekayaan informasi yang belum banyak diakses oleh khalayak umum. Meskipun dua babad ini telah menjadi bagian dari Perpustakaan Universitas Leiden di Belanda sebelumnya, sekarang keduanya telah pulang kampung dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, disatukan dalam satu buku.